Tragedi Stadion Bunden Park 1946

Tepatnya Maret tahun 1946. Kejadian tersebut berlangsung baru sekitar enam bulan dari berlalunya era Perang Dunia II berakhir. Kejadian tersebut terjadi ketika dua klub asal Inggris, Bolton dan Stoke City saling berhadapan di Bunden Park yang merupakan kandang dari Bolton. Ketika itu Liga lokal belum dimulai sebab masih tersisa pengaruh dari perang. Namun tetap bergulirnya ajang Piala FA, mampu menyedot perhatian penggemar sepakbola yang saat itu haus akan hiburan. Pertandingan tersebut adalah pertandingan babak 6 Piala FA yang mempertemukan The Trotters & The Potters. Bolton tampil sebagai juara Liga di tahun sebelumnya, namun Bolton belum pernah meraih gelar Piala FA sejak tahun 1929. Dan merekapun kini mengincar poin penuh atas Stoke, mengingat Bolton sebelumnya tak pernah berhasil lolos dari babak 6 Piala FA. Mereka telah menapakkan satu kaki dengan torehan kemenangan 2-0 yang mereka raih di kandang Stoke City, Victoria Ground, satu pekan sebelumnya. Jumlah suporter yang memadati Stadion Burnden saat itu terlihat sedikit aneh. Rekor penonton yang memadati stadion musim itu hanya 43.500 orang, namun masih berada di bawah rekor 69.912 orang yang tercatat di tahun 1933. Namun di bulan Maret yang ditakdirkan kala itu, para penonton seakan dimabukkan oleh keinginan besar untuk menonton sepakbola. Stoke City yang didalamnya terdapat Sir Stanley Matthews mampu menguatkan animo penonton di laga tersebut.

Tragedi Stadion Bunden Park 1946

Stadion Burnden Park hanya berkapasitas 3.000 kursi, selama perang berlangsung tidak dapat dipergunakan karena saat itu pemerintah melarang. Supoerter dari tim Bolton harus berjalan menuju Manchester Road untuk datang ke Burnden Paddock. Dan tikungan di daerah rel kereta api pun telah ditutup semenjak 5 tahun lalu, sehingga menyebabkan kerumunan di daerah sekitar pintu utama makin bertambah. Dan puncaknya jam 1 siang, ribuan suporter tiba di stadion. Keadaan mulai mencengangkan satu setengah jam setelahnya, karena penonton yang datang telah terlihat mulai melebihi kapasitas dari Stadion. Dan 10 menit setelahnya, jalan masuk stadion pun ditutup. Adapun, para suporter tak mau menyerah dan terus mencoba menembus ribuan suporter yang telah siap menonton pertandingan. Mereka pun akhirnya merobohkan pagar tua yang menjadi batas stadion dengan rel kereta.

Kedua klub mulai memasuki lapangan hijau kemudian kerumuman semakin bertambah banyak. Tak lama setelah itu, para suporter mulai saling dorong, sehingga pembatas metal yang ada di sana tak sanggup lagi untuk menahan tekanan para suporter. Jumlah suporter yang meledak ada beberapa di antaranya sempat berteriak, “Semua orang terjatuh bagaikan satu pak kartu” Para suporter saling mendorong, beberapa orang telihat tak berdaya. Dan jam 3 sore, polisi setempat datang dan memberi peringatan kepada wasit, dan kedua tim akhirnya terpaksa meninggalkan lapangan hijau. Setengah jam setelahnya, mengikuti instruksi dari pihak kepolisian, laga pun dilanjutkan dan berakhir dengan hasil 0-0. Pemandangan ketika itu sangat menyedihkan, karena semua pemain melanjutkan laga dengan situasi banyak jenazah yang dibaringkan di pinggir lapangan. Dan setelah semua usai, lebih dari 400 suporter cedera dan 33 suporter meninggal dunia. Matthew yang ketika itu bermain untuk Stoke bahkan merasakan muak dengan keputusan ofisial pertandingan untuk terus melanjutkan laga dengan keadaan seperti itu. Berita ini didapatkan dari penggiat sepakbola melalui halaman blog dan artikel bolanya.