Paket Internet Provider Indosat Terbaru – Harga Masih Sama Tapi Kuota Ada Kurangnya

Paket Internet Provider Indosat Terbaru – Harga Masih Sama Tapi Kuota Ada Kurangnya Kabar tak terlalu sedap buat pelanggan setia dari paket internet provider Indosat, mengingat dari 1 Juni 2015 terdapat perubahan baru yang memungkinkan total kuota jadi lebih sedikit bila disandingkan sebelumnya. Memang costnya tak naik alias tetap pada harga yang lama tapi ada sejumlah paket yang update antara lain seperti paket internet 8 GB, 11 GB, 13 GB sudah tak tersedia lagi.

 

Jika tadinya dengan anggaran 49 ribu kita berkesempatan mendapat paket internet sebanyak 11 GB namun saat ini cuma 4,5GB dan bila diperhatikan memang kuota primer tetap tapi kuota bonus tidak sedikit berkurangnya entah itu bonus internet siang, internet malam ataupun superwifi. Perubahan lainnya yaitu dengan kehadiran paket kuota baru senilai 20,5 GB dengan biaya 199 ribu, tetapi ternyata ini merupakan hanya pengalihan dari paket 18GB yang telah ada yang lalu.

Di paket baru tertanggal 1 juni 2015 ini yang meningkat hanyalah kuota bonus internet superwifi yang tadinya 5 GB jadi 7 GB dan bonus intgernet malam pukul 01.00-06.00 meningkat dari 3 GB menjadi 4 GB namun tuk kuota 24 jam tak ada yang berubah. Harga serta kuota utama 24 jam memang tak berubah, tapi terhadap paket super internet Indosat terbaru ini seluruh kouta bonus hampir semua berkurang, khususnya bonus internet siang dari pukul 09.00 hingga 17.00.

Dengan perubahan ini makin membuktikan bila di Indonesia memang tidak ada operator seluler yang mempromosikan paket internet murah pada kuota melimpah meskipun ada biasanya sekedar bonus yang bisa dipakai saat jam lewat tengah malam.

Tragedi Stadion Bunden Park 1946

Tepatnya Maret tahun 1946. Kejadian tersebut berlangsung baru sekitar enam bulan dari berlalunya era Perang Dunia II berakhir. Kejadian tersebut terjadi ketika dua klub asal Inggris, Bolton dan Stoke City saling berhadapan di Bunden Park yang merupakan kandang dari Bolton. Ketika itu Liga lokal belum dimulai sebab masih tersisa pengaruh dari perang. Namun tetap bergulirnya ajang Piala FA, mampu menyedot perhatian penggemar sepakbola yang saat itu haus akan hiburan. Pertandingan tersebut adalah pertandingan babak 6 Piala FA yang mempertemukan The Trotters & The Potters. Bolton tampil sebagai juara Liga di tahun sebelumnya, namun Bolton belum pernah meraih gelar Piala FA sejak tahun 1929. Dan merekapun kini mengincar poin penuh atas Stoke, mengingat Bolton sebelumnya tak pernah berhasil lolos dari babak 6 Piala FA. Mereka telah menapakkan satu kaki dengan torehan kemenangan 2-0 yang mereka raih di kandang Stoke City, Victoria Ground, satu pekan sebelumnya. Jumlah suporter yang memadati Stadion Burnden saat itu terlihat sedikit aneh. Rekor penonton yang memadati stadion musim itu hanya 43.500 orang, namun masih berada di bawah rekor 69.912 orang yang tercatat di tahun 1933. Namun di bulan Maret yang ditakdirkan kala itu, para penonton seakan dimabukkan oleh keinginan besar untuk menonton sepakbola. Stoke City yang didalamnya terdapat Sir Stanley Matthews mampu menguatkan animo penonton di laga tersebut.

Tragedi Stadion Bunden Park 1946

Stadion Burnden Park hanya berkapasitas 3.000 kursi, selama perang berlangsung tidak dapat dipergunakan karena saat itu pemerintah melarang. Supoerter dari tim Bolton harus berjalan menuju Manchester Road untuk datang ke Burnden Paddock. Dan tikungan di daerah rel kereta api pun telah ditutup semenjak 5 tahun lalu, sehingga menyebabkan kerumunan di daerah sekitar pintu utama makin bertambah. Dan puncaknya jam 1 siang, ribuan suporter tiba di stadion. Keadaan mulai mencengangkan satu setengah jam setelahnya, karena penonton yang datang telah terlihat mulai melebihi kapasitas dari Stadion. Dan 10 menit setelahnya, jalan masuk stadion pun ditutup. Adapun, para suporter tak mau menyerah dan terus mencoba menembus ribuan suporter yang telah siap menonton pertandingan. Mereka pun akhirnya merobohkan pagar tua yang menjadi batas stadion dengan rel kereta.

Kedua klub mulai memasuki lapangan hijau kemudian kerumuman semakin bertambah banyak. Tak lama setelah itu, para suporter mulai saling dorong, sehingga pembatas metal yang ada di sana tak sanggup lagi untuk menahan tekanan para suporter. Jumlah suporter yang meledak ada beberapa di antaranya sempat berteriak, “Semua orang terjatuh bagaikan satu pak kartu” Para suporter saling mendorong, beberapa orang telihat tak berdaya. Dan jam 3 sore, polisi setempat datang dan memberi peringatan kepada wasit, dan kedua tim akhirnya terpaksa meninggalkan lapangan hijau. Setengah jam setelahnya, mengikuti instruksi dari pihak kepolisian, laga pun dilanjutkan dan berakhir dengan hasil 0-0. Pemandangan ketika itu sangat menyedihkan, karena semua pemain melanjutkan laga dengan situasi banyak jenazah yang dibaringkan di pinggir lapangan. Dan setelah semua usai, lebih dari 400 suporter cedera dan 33 suporter meninggal dunia. Matthew yang ketika itu bermain untuk Stoke bahkan merasakan muak dengan keputusan ofisial pertandingan untuk terus melanjutkan laga dengan keadaan seperti itu. Berita ini didapatkan dari penggiat sepakbola melalui halaman blog dan artikel bolanya.