3 Pemain Ini Akan Jadi Pilar Utama untuk Indonesia di Laga vs Arab

Tiga tulang punggung tim nasional U-19 Indonesia berpotensi jadi pemain kunci untuk membungkam perlawanan tim nasional U-19 Arab Saudi.

Pertandingan bertajuk persahabatan antara ke-2 berlangsung di Stadion Wibawa Mukti, Bekasi, Rabu (10/10) sore ini pukul 15. 30 WIB.

Pertandingan tim nasional U-19 Indonesia vs Arab Saudi pun menjadi persiapan jelang Piala Asia U-19 2018 di 18 Oktober sampai 4 November.

Dari 23 pesepakbola tim nasional U-19 Indonesia yang telah ditentukan Indra Sjafri, paling tidak tersedia 3 nama yang nantinya kemungkinan menjadi senjata kunci.

Tapi dari 3 nama ini tidak tersedia sosok pemain Garuda Nusantara yang sekarang memperkuat klub Liga Polandia Lechia Gdanks, Egy Maulana Vikri.

Egy sesungguhnya telah datang di Indonesia serta gabung bersama rekan-rekan Garuda Nusantara pada Senin (8/10).

Tapi situasinya tengah tidak memungkinkan untuk terjun di dalam pertandingan tim nasional U-19 Indonesia melawan Arab Saudi.

Di pertandingan sore itu, nama menurut Saddil Ramdani, Witan Sulaiman, serta Rafli Mursalim kemungkinan akan menjadi tulang punggung guna membuat goal.

Saddil bersama kecepatannya serta kekuatan tendangan pada kaki kirinya jadi andalan guna posisi yang beroperasi di sektor sayap.

Witan masih memiliki peran seperti pada awalnya, yaitu menjadi playmaker yang ada di belakang ujung tombak solo.

Sementara posisi striker kunci bakal diperankan Rafli Mursalim yang juga jadi pemantul bola di sektor serang.

Trio penggawa tulang punggung Garuda Nusantara itu diperkirakan bakal dimainkan juru tak-tik Indra Sjafri semenjak menit perdana.

Nantinya 3 bintang ini bakal ditopang dengan fungsi bintang lainnya, seperti Feby Eka Putra serta Syahrian Abimanyu.

Sedangkan pemain muda dari Papua, Rivaldo Todd Ferre diyakini akan berlaga di babak ke-2 mengisi posisi central.

5 Bintang Eropa yang di Proyeksi Menggantikan Mohamed Salah Jika Jadi Hengkang

mohamed salah

Superstar Liverpool Mohamed Salah adalah pesepakbola jempolan pada Liga Premier Inggris kompetisi musim ini. Performa luar biasa punggawa asal Mesir tersebut pada rumput hijau mengundang perhatian Raksasa seperti Real Madrid serta Barcelona.

Ke-2 klub La Liga itu bersiap bersaing demi mendapat jasa Mohamed Salah. Faktor ini pastinya menjadikan penggemar The Reds begitu takut.

Liverpool sendiri senantiasa kesusahan membentengi bintang terbaiknya sebagaimana Michael Owen, Luis Suarez, dan yang terbaru Philippe Coutinho saat raksasa sumber informasi Spanyol itu mengajukan tawaran. Bukan tak mungkin Salah bakal menyusul langkah mereka di kompetisi musim panas.

Kepergian Salah akan sebagai hajaran hebat bagi Liverpool. Tapi, 5 punggawa di bawah ini dapat dipikirkan Liverpool bila Salah mengambil keputusan hengkang pada kompetisi musim panas sama seperti dikabarkan Bookmarkers.

Florian Thauvin – Marseille

Sewaktu tidak sukses cemerlang semasa di Newcastle, punggawa berpaspor Perancis tersebut meniti lagi karirnya bersama dengan eks timnya, Marseille. Ia merupakan salahsatu bintang terkeren di Ligue 1 Perancis musim sekarang juga telah menyarangkan 20 gol bersama 10 operan sukses menjadi gol.

Performa cemerlangnya pun akhirnya dilirik manajer timnas Perancis, Didier Deschamps. Ia berkesempatan luas dibawa ke dalam formasi Piala Dunia Rusia setelah namanya disebut untuk partai friendly match belakangan menghadapi Kolombia serta Rusia di bln Maret.

Punggawa berumur 25 th itu bakal jadi penerus yang sepadan untuk pesepakbola Mesir & bisa menyusul langkah Salah yg menjumpai keberhasilan baca di sini pada percobaan kali kedua dipentas Liga Premier Inggris. Tetapi, eks punggawa Newcastle ini musti mengembangkan ketahanan fisiknya supaya dapat berkompetisi di Premier League.

Malcom – Bordeaux

Disebut sebagai pengganti Neymar, Malcom menjadi salahsatu prospek terhot didalam sepak bola sekarang Ia telah dihubungkan dg banyak klub raksasa dalam jendela transfer belakangan.

Mantan bintang Corinthians itu bersepakat bersama Bordeaux pada jendela perpindahan musim dingin thn 2017 lalu dgn singkat sebagai punggawa kegemaran fans dg permainannya. Dia menurunkan 33 partai Ligue 1 kompetisi musim ini dan mengoleksi 10 gol.

Sepertinya, The Reds bakalan menjumpai perburuan yang berat untuk web referensi artikel menghadirkan Malcom ke Anfield Stadium. Jurgen Klopp pastinya harus merogoh kocek besar untuk mendapat servisnya.

Nabil Fekir – Lyon

Kapten Lyon, Nabil Fekir bermain sensasional di kompetisi musim ini & melesakkan 17 skor bersama 6 operan di Ligue satu.

Produk sekolah Lyon tersebut mengawali debutnya di tahun 2013 serta jadi pemain utama hanya dalam waktu satu tahun. Dia membikin 13 gol di tahun keduanya pada Ligue 1 & memperoleh penghargaan Punggawa Muda Terbaik Liga Perancis. Dia jua sebagai bagian dari Team Jempolan Ligue satu pada kompetisi musim 2014/2015.

Fekir begitu kencang disangkutkan lihat tulisan selengkapnya dengan Liverpool dalam sekian minggu terakhir. Tetapi, tetap tidak tentu apa Liverpool menginginkannya tuk melapisi Salah ataupun meningkatkan ketajaman barisan depan mereka.

Julian Brandt – Bayer Leverkusen

Pilar muda Bayer Leverkusen ini memperlihatkan performa yang mempesona pada musim tersebut sampai menjadikannya disukai banyak klub besar Eropa.

Brandt memasukan 8 gol di Bundesliga kompetisi musim ini dan menyumbang tiga operan untuk klubnya.

Walaupun begitu, pesepakbola Jerman tersebut dikutip dari situs kerap dikecam lantaran punya problem dgn etos kerja juga perilakunya. Akan tetapi, Jurgen Klopp tentu dapat mengembangkan penampilannya tuk membuatnya jadi bintang yg tambah baik.

Paulo Dybala – Juventus

Tidak sama seperti penerus Mohamed Salah, namun punggawa berkebangsaan Argentina tersebut bakal jadi opsi yang ideal buat Liverpool apabila mereka kepergian tenaga asal Mesir ini pada tahun depan.

Paulo Dybala merupakan salah satu pilar terbeken Juventus semenjak 3 tahun belakangan serta datang kedalam Tim Terbeken Serie A sepanjang 2 musim akhir. Dia ada pada ranking 15 di perbutan Ballon d’Or tahun 2017.

Bintang yang menginjak usia 22 thn itu memiliki bandrol yang cukup tinggi di jendela perpindahan sekarang. Tetapi, The Reds pun bakal memperoleh dana yang banyak kalau mereka memilih buat melego Salah pada kompetisi musim panas membuatnya dapat dipakai untuk menebus Dybala.

5 Manajer Dengan Gaji Paling tinggi di Serie A

Tim-tim Serie A pastinya pun akan menjalankan berbagai macam cara demi memperoleh torehan yang cantik di medan pertempuran. Salah satunya ialah dengan cara membeli manajer cemerlang. Walupun tidaklah seglamor Premier League dan La Liga, Serie A rupanya dapat memberikan gaji yang sangat layak buat manajer mereka. Lalu siapakah manajer yang memperoleh gaji sangat besar di Italia? Sebagaimana dilansir dari Gazzetta dello Sport, berikut 5 manajer Serie A dari gaji sangat tinggi di tahun 2017 berita menarik ini kami dapat dari sini.

Sinisa Mihajlovic
Dituliskan di website agen bola ini bahwa Sinisa Mihajlovic mulai, meng-handle Torino di musim lalu. Pria dari Serbia itu cuma berhasil membawa Torino finis di ranking 9 dari musim pertamanya. Walupun torehan Torino dapat dikatakan kurang begitu istimewa, Mihajlovic masih tetap diyakini untuk menjadi pemimpin Andrea Belotti dan kawan-kawan di musim ini, Bekas pesepakbola Lazio dan Inter Milan tersebut menenerima gaji senilai 1,5 jt per musim sedangkan masa kerjanya akan berakhir di tahun 2018.

Eusebio Di Francesco
Eusebio Di Francesco memperlihatkan performa yang begitu bagus saat meng-handle Sassuolo. Oleh sebab itu, AS Roma mengambil keputusan untuk memperlihatkan bekas pemainnya itu saat berpisah terhadap Luciano Spalletti. Di Francesco memiliki pekerjaan berat untuk memberikan torehan pada Roma dan sang manajer diikat dengan masa kerja hingga 2020. Pria berumur 47 tahun itu memperoleh gaji senilai 1,5 jt euro per musim pada Olimpico.

Vincenzo Montella
Vincenzo Montella didampuk sebagai manajer AC Milan di tahun 2016 usai meng-handle Sampdoria. Bekas pesepakbola AS Roma tersebut berhasil membawa Rossoneri finis di posisi ke-6 pada pertamanya di San Siro. Montella memperoleh gaji senilai 3 jt euro per musim dan masa kerjanya akan selesai di tahun 2019. Dari gaji yang besar, Milan mengharap Montella dapat mempersembahkan torehan usai pemilik dari Tiongkok berinvestasi cukup besar pada bursa transfer musim panas sekarang.

Luciano Spalletti
Luciano Spalletti memilih untuk meng-handle Inter Milan usai menyudahi masa kerjanya di AS Roma. Pria berkepala plontos itu terikat dengan masa kerja 2 tahun di Giuseppe Meazza. Spalletti memperoleh gaji senilai 4 jt euro dan diinginkan dapat mendampingi Inter lagi memperoleh torehan. Inter cukup berharap banyak dari pada sang manajer usai mereka menghabiskan awal musim yang istimewa.

Massimiliano Allegri
Massimiliano Allegri merupakan manajer dengan bayaran paling tinggi di Serie A sekarang ini. Hal tersebut tidaklah berlebihan sebab Allegri telah menyumbangkan 3 gelar scudetto bagi Juve. Atas prestasinya tersebut, Juve memilih untuk menyiapkan klausul baru bagi Allegri di musim panas sekarang. Allegri memperoleh bayaran senilai 7 jt euro per musim dan kolaborasi mereka akan habis di tahun 2020. Artikel terkait juga

Tragedi Stadion Bunden Park 1946

Tepatnya Maret tahun 1946. Kejadian tersebut berlangsung baru sekitar enam bulan dari berlalunya era Perang Dunia II berakhir. Kejadian tersebut terjadi ketika dua klub asal Inggris, Bolton dan Stoke City saling berhadapan di Bunden Park yang merupakan kandang dari Bolton. Ketika itu Liga lokal belum dimulai sebab masih tersisa pengaruh dari perang. Namun tetap bergulirnya ajang Piala FA, mampu menyedot perhatian penggemar sepakbola yang saat itu haus akan hiburan. Pertandingan tersebut adalah pertandingan babak 6 Piala FA yang mempertemukan The Trotters & The Potters. Bolton tampil sebagai juara Liga di tahun sebelumnya, namun Bolton belum pernah meraih gelar Piala FA sejak tahun 1929. Dan merekapun kini mengincar poin penuh atas Stoke, mengingat Bolton sebelumnya tak pernah berhasil lolos dari babak 6 Piala FA. Mereka telah menapakkan satu kaki dengan torehan kemenangan 2-0 yang mereka raih di kandang Stoke City, Victoria Ground, satu pekan sebelumnya. Jumlah suporter yang memadati Stadion Burnden saat itu terlihat sedikit aneh. Rekor penonton yang memadati stadion musim itu hanya 43.500 orang, namun masih berada di bawah rekor 69.912 orang yang tercatat di tahun 1933. Namun di bulan Maret yang ditakdirkan kala itu, para penonton seakan dimabukkan oleh keinginan besar untuk menonton sepakbola. Stoke City yang didalamnya terdapat Sir Stanley Matthews mampu menguatkan animo penonton di laga tersebut.

Tragedi Stadion Bunden Park 1946

Stadion Burnden Park hanya berkapasitas 3.000 kursi, selama perang berlangsung tidak dapat dipergunakan karena saat itu pemerintah melarang. Supoerter dari tim Bolton harus berjalan menuju Manchester Road untuk datang ke Burnden Paddock. Dan tikungan di daerah rel kereta api pun telah ditutup semenjak 5 tahun lalu, sehingga menyebabkan kerumunan di daerah sekitar pintu utama makin bertambah. Dan puncaknya jam 1 siang, ribuan suporter tiba di stadion. Keadaan mulai mencengangkan satu setengah jam setelahnya, karena penonton yang datang telah terlihat mulai melebihi kapasitas dari Stadion. Dan 10 menit setelahnya, jalan masuk stadion pun ditutup. Adapun, para suporter tak mau menyerah dan terus mencoba menembus ribuan suporter yang telah siap menonton pertandingan. Mereka pun akhirnya merobohkan pagar tua yang menjadi batas stadion dengan rel kereta.

Kedua klub mulai memasuki lapangan hijau kemudian kerumuman semakin bertambah banyak. Tak lama setelah itu, para suporter mulai saling dorong, sehingga pembatas metal yang ada di sana tak sanggup lagi untuk menahan tekanan para suporter. Jumlah suporter yang meledak ada beberapa di antaranya sempat berteriak, “Semua orang terjatuh bagaikan satu pak kartu” Para suporter saling mendorong, beberapa orang telihat tak berdaya. Dan jam 3 sore, polisi setempat datang dan memberi peringatan kepada wasit, dan kedua tim akhirnya terpaksa meninggalkan lapangan hijau. Setengah jam setelahnya, mengikuti instruksi dari pihak kepolisian, laga pun dilanjutkan dan berakhir dengan hasil 0-0. Pemandangan ketika itu sangat menyedihkan, karena semua pemain melanjutkan laga dengan situasi banyak jenazah yang dibaringkan di pinggir lapangan. Dan setelah semua usai, lebih dari 400 suporter cedera dan 33 suporter meninggal dunia. Matthew yang ketika itu bermain untuk Stoke bahkan merasakan muak dengan keputusan ofisial pertandingan untuk terus melanjutkan laga dengan keadaan seperti itu. Berita ini didapatkan dari penggiat sepakbola melalui halaman blog dan artikel bolanya.