5 Manajer Dengan Gaji Paling tinggi di Serie A

Tim-tim Serie A pastinya pun akan menjalankan berbagai macam cara demi memperoleh torehan yang cantik di medan pertempuran. Salah satunya ialah dengan cara membeli manajer cemerlang. Walupun tidaklah seglamor Premier League dan La Liga, Serie A rupanya dapat memberikan gaji yang sangat layak buat manajer mereka. Lalu siapakah manajer yang memperoleh gaji sangat besar di Italia? Sebagaimana dilansir dari Gazzetta dello Sport, berikut 5 manajer Serie A dari gaji sangat tinggi di tahun 2017 berita menarik ini kami dapat dari sini.

Sinisa Mihajlovic
Dituliskan di website agen bola ini bahwa Sinisa Mihajlovic mulai, meng-handle Torino di musim lalu. Pria dari Serbia itu cuma berhasil membawa Torino finis di ranking 9 dari musim pertamanya. Walupun torehan Torino dapat dikatakan kurang begitu istimewa, Mihajlovic masih tetap diyakini untuk menjadi pemimpin Andrea Belotti dan kawan-kawan di musim ini, Bekas pesepakbola Lazio dan Inter Milan tersebut menenerima gaji senilai 1,5 jt per musim sedangkan masa kerjanya akan berakhir di tahun 2018.

Eusebio Di Francesco
Eusebio Di Francesco memperlihatkan performa yang begitu bagus saat meng-handle Sassuolo. Oleh sebab itu, AS Roma mengambil keputusan untuk memperlihatkan bekas pemainnya itu saat berpisah terhadap Luciano Spalletti. Di Francesco memiliki pekerjaan berat untuk memberikan torehan pada Roma dan sang manajer diikat dengan masa kerja hingga 2020. Pria berumur 47 tahun itu memperoleh gaji senilai 1,5 jt euro per musim pada Olimpico.

Vincenzo Montella
Vincenzo Montella didampuk sebagai manajer AC Milan di tahun 2016 usai meng-handle Sampdoria. Bekas pesepakbola AS Roma tersebut berhasil membawa Rossoneri finis di posisi ke-6 pada pertamanya di San Siro. Montella memperoleh gaji senilai 3 jt euro per musim dan masa kerjanya akan selesai di tahun 2019. Dari gaji yang besar, Milan mengharap Montella dapat mempersembahkan torehan usai pemilik dari Tiongkok berinvestasi cukup besar pada bursa transfer musim panas sekarang.

Luciano Spalletti
Luciano Spalletti memilih untuk meng-handle Inter Milan usai menyudahi masa kerjanya di AS Roma. Pria berkepala plontos itu terikat dengan masa kerja 2 tahun di Giuseppe Meazza. Spalletti memperoleh gaji senilai 4 jt euro dan diinginkan dapat mendampingi Inter lagi memperoleh torehan. Inter cukup berharap banyak dari pada sang manajer usai mereka menghabiskan awal musim yang istimewa.

Massimiliano Allegri
Massimiliano Allegri merupakan manajer dengan bayaran paling tinggi di Serie A sekarang ini. Hal tersebut tidaklah berlebihan sebab Allegri telah menyumbangkan 3 gelar scudetto bagi Juve. Atas prestasinya tersebut, Juve memilih untuk menyiapkan klausul baru bagi Allegri di musim panas sekarang. Allegri memperoleh bayaran senilai 7 jt euro per musim dan kolaborasi mereka akan habis di tahun 2020. Artikel terkait juga

Tragedi Stadion Bunden Park 1946

Tepatnya Maret tahun 1946. Kejadian tersebut berlangsung baru sekitar enam bulan dari berlalunya era Perang Dunia II berakhir. Kejadian tersebut terjadi ketika dua klub asal Inggris, Bolton dan Stoke City saling berhadapan di Bunden Park yang merupakan kandang dari Bolton. Ketika itu Liga lokal belum dimulai sebab masih tersisa pengaruh dari perang. Namun tetap bergulirnya ajang Piala FA, mampu menyedot perhatian penggemar sepakbola yang saat itu haus akan hiburan. Pertandingan tersebut adalah pertandingan babak 6 Piala FA yang mempertemukan The Trotters & The Potters. Bolton tampil sebagai juara Liga di tahun sebelumnya, namun Bolton belum pernah meraih gelar Piala FA sejak tahun 1929. Dan merekapun kini mengincar poin penuh atas Stoke, mengingat Bolton sebelumnya tak pernah berhasil lolos dari babak 6 Piala FA. Mereka telah menapakkan satu kaki dengan torehan kemenangan 2-0 yang mereka raih di kandang Stoke City, Victoria Ground, satu pekan sebelumnya. Jumlah suporter yang memadati Stadion Burnden saat itu terlihat sedikit aneh. Rekor penonton yang memadati stadion musim itu hanya 43.500 orang, namun masih berada di bawah rekor 69.912 orang yang tercatat di tahun 1933. Namun di bulan Maret yang ditakdirkan kala itu, para penonton seakan dimabukkan oleh keinginan besar untuk menonton sepakbola. Stoke City yang didalamnya terdapat Sir Stanley Matthews mampu menguatkan animo penonton di laga tersebut.

Tragedi Stadion Bunden Park 1946

Stadion Burnden Park hanya berkapasitas 3.000 kursi, selama perang berlangsung tidak dapat dipergunakan karena saat itu pemerintah melarang. Supoerter dari tim Bolton harus berjalan menuju Manchester Road untuk datang ke Burnden Paddock. Dan tikungan di daerah rel kereta api pun telah ditutup semenjak 5 tahun lalu, sehingga menyebabkan kerumunan di daerah sekitar pintu utama makin bertambah. Dan puncaknya jam 1 siang, ribuan suporter tiba di stadion. Keadaan mulai mencengangkan satu setengah jam setelahnya, karena penonton yang datang telah terlihat mulai melebihi kapasitas dari Stadion. Dan 10 menit setelahnya, jalan masuk stadion pun ditutup. Adapun, para suporter tak mau menyerah dan terus mencoba menembus ribuan suporter yang telah siap menonton pertandingan. Mereka pun akhirnya merobohkan pagar tua yang menjadi batas stadion dengan rel kereta.

Kedua klub mulai memasuki lapangan hijau kemudian kerumuman semakin bertambah banyak. Tak lama setelah itu, para suporter mulai saling dorong, sehingga pembatas metal yang ada di sana tak sanggup lagi untuk menahan tekanan para suporter. Jumlah suporter yang meledak ada beberapa di antaranya sempat berteriak, “Semua orang terjatuh bagaikan satu pak kartu” Para suporter saling mendorong, beberapa orang telihat tak berdaya. Dan jam 3 sore, polisi setempat datang dan memberi peringatan kepada wasit, dan kedua tim akhirnya terpaksa meninggalkan lapangan hijau. Setengah jam setelahnya, mengikuti instruksi dari pihak kepolisian, laga pun dilanjutkan dan berakhir dengan hasil 0-0. Pemandangan ketika itu sangat menyedihkan, karena semua pemain melanjutkan laga dengan situasi banyak jenazah yang dibaringkan di pinggir lapangan. Dan setelah semua usai, lebih dari 400 suporter cedera dan 33 suporter meninggal dunia. Matthew yang ketika itu bermain untuk Stoke bahkan merasakan muak dengan keputusan ofisial pertandingan untuk terus melanjutkan laga dengan keadaan seperti itu. Berita ini didapatkan dari penggiat sepakbola melalui halaman blog dan artikel bolanya.